Senin, April 04, 2011

the election


Akhir2 ini pada sempet merhatiin gak sih, komentar2 blunder dari yang terhormat bapak ketua dewan nan elit di Senayan MarJuki?

gw rekap ulang yah :

1. Terkait gempa mentawai :
Mentawai itu kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” (Kompas.com, 27/10). “Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa.

2. Soal rencana pembangunan kolam renang di gedung DPR yang baru :
“Berdasarkan pendapat konsultan, kolam renang tetap akan dibangun untuk penampungan air mencegah kebakaran,

3. Terkait TKW yang mendapat penyiksaan dari majikannya :

"Ada yang tidak bisa membedakan cairan setrika. Akhirnya menggosok baju seenaknya. Makanya majikannya marah. Wajar saja itu setrika menempel di tubuh pembantu,"

"Saya setuju hentikan TKW PRT untuk sementara waktu. PRT sebaiknya tidak kita kirim karena memalukan. Sebaiknya dihentikan. Ini pendapat pribadi,"

4. Mengenai tetap dibangunnya gedung DPR sekalipun diprotes sana sini :
“Kalau ditanya, ini jelas saya sampaikan, ya, kalau ditanya, masyarakat tanya ‘perlu gedung baru atau tidak?’ Seratus persen jawabnya tidak. Karena tidak dijelasin. Kalau sistem surveinya perlu gedung baru atau tidak, semua jawab tidak, karena gedung sudah ada,”

“Tapi kalau dijawab bagaimana kita ingin memperbaiki DPR dari posisi sekarang menjadi posisi ke depan itu, inginnya bagaimana, kita jelaskan keperluan-keperluannya, baru ada gedung di situ, baru orang bilang, ‘oh, perlu gedung’,”

“Ini cuma orang-orang yang elite yang paham yang bisa membahas ini, rakyat biasa nggak bisa dibawa. Kalau rakyat biasa dibawa memikirkan bagamana perbaikian sistem, bagaimana perbaikan organisasi, bagaimana perbaikan infrastruktur, rakyat biasa pusing pikirannya,”

“Rakyat biasa dari hari ke hari yang penting perutnya berisi, udah jalan, makan, kerja, ada rumah, ada pendidikan, selesai rakyat. Jangan diajak ngurusin yang begini. Urusan begini orang-orang pinter-pinter ajak bicara, ajak kampus-kampus bicara, kita diskusikan. Saya siap, kok, untuk didiskusikan,”

Dan entah berapa banyak lagi pernyataan 'elite' orang tersebut diatas yang belum sampai terekam di media, atau mungkin saking buruknya tidak dimuat di media.
Beberapa orang mungkin dengan bangganya bilang : Kaya gini ini nih, orang2 Senayan, untung waktu itu gw gak milih. Atau ahh, sampahlah, males gw milih lagi nanti.

Menurut gw sikap itu sepenuhnya salah. Justru dengan antipati semacam itulah yang bikin orang2 Senayan jadi semena-mena dan dijajah pemikiran-pemikiran semacam diatas. Kenapa? karena kita gak mau menggunakan hak pilih kita untuk memilih yang baik.. Karena kita gak mau berpartisipasi untuk mengusahakan agar2 orang-orang bermulut sampah itu gak kepilih, karena kita masa bodoh,tidak mau dipersalahkan atas pemilihan yang terjadi, tapi paling pandai mempersalahkan orang2 yang memilih..
Menurut gw, seburuk-buruknya calon yang ada, setidaknya kita udah mau usaha untuk membantu menyeleksi siapakah calon terbaik diantara yg ada. Disini poinnya. Mungkin memang bisa saja semua calon berpotensi busuk semua, tapi kan kita punya kesempatan menyeleksi kan, bukan masa bodoh? Kalau pada waktu pemilihan aja masa bodoh, kenapa ketika sekarang gencar mengkritik? Resiko kita karena kita tidak memanfaatkan hak pilih kita dulu. Dan walaupun ketika pada akhirnya pilihan kita itu masih saja busuk, bisa dibilang itu bukan sepenuhnya kesalahan kita dalam memilih. Bukankah pilihan kita masih saja yang paling baik diantara semua calon yang ada? Kita sudah berusaha untuk memilih yang terbaik, ketika akhirnya memang masih saja tidak baik, berarti kesalahan ada di pilihan calon yang ada.
Sekarang gini deh, kalau kita gak milih, bukannya malah kemungkinan besar yang paling busuklah yang bisa maju? Karena gak semua memanfaatkan haknya buat memilih yang baik. Dan akhirnya kebusukan yang menang.

Jadi gw tegaskan. Mari kita menggunakan hak pilih kita dengan baik dan benar. Mari kita manfaatkan semaksimal mungkin, jangan pernah menyianyiakan, karena satu hak pilih itu, bisa mempengaruhi keseluruhan hasil akhir.
Jangan sampai,di pemilihan selanjutnya, kita masih menemukan Juki2 yang lain.
Demikian :)


dan oh satu lagi :
untuk komen terhadap bapak Juki sepertinya gw skip aja. Cukup prihatin aja kenapa orang kaya gt dulu bisa dapet ijazah. Lalu kenapa contohnya cukup si Juki aja? karena dia pemimpin. Kalo pemimpinnya aja begitu, sudahlah jangan berharap anak buahnya kaya gmn..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar