
Grudug sapen itu istilah jawa.
gw agak2 lupa kalimat pas buat ngartiinnya apaan. latah mungkin? Yang jelas ini istilah paling pas buat fenomena yang sering ada di masyarakat kita.
Pada suka gerudug kesana, gerudug kesini.
Semua lomba2 jadi yang paling vokal, paling disorot.
Apapun pendapatnya, yang penting ngomong dulu dan direkam media.
gak peduli apakah orang yang mereka bully kuat atau nggak ngadepinnya. Dan gak pernah berpikir dua kali, gimana seandainya hal itu kejadian sama diri mereka sendiri.
maka ingat2lah kembali tentang kasus lapindo, yang kemudian ilang gitu aja ditutup sama drama century, nerus ke cerita om gayus, dan terakhir bahkan kasus video porno yang kabarnya serialnya lagi dinanti2in.
Semuanya penuh dengan publikasi berlebihan. Dari orang yang merasa penting buat komentar, sampe orang yang ngerasa paling bersih, padahal mereka2 ini dulunya juga pernah tersangkut kasus serupa.
Dan yang paling disayangkan dari semuanya, fokusnya mulai keluar dari duduk perkara yang dipermasalahkan. Orang2 yang muncul juga kebanyakan orang2 yang memang bermaksud mendapatkan secuil popularitas tambahan dengan niat2 tersembunyi.
Ada yang lagi nyalon jadi ketua apalah, ada yang emang lagi gak laku, ada yang biar tambah laku.
Yang jelas semua mau jadi nomor satu.
Pertanyaannya bisa gak kita keluar dari budaya latah ini?
Mungkin hal2 kayak gini juga yang bikin orang yang sebenernya punya kemampuan untuk membela dan menyuarakan pendapat jadi apatis.
Orang terlanjur tidak terbiasa dengan perbedaan.
Semua dianggap harus sependapat, kemudian menyingkirkan orang yang dianggap berbeda.
Hal yang tadinya sebenernya masalah kecil dan wajar untuk berbeda, tiba2 menjadi sesuatu yang besar dan kita semua harus sama.
Mungkin kelompok2 minoritas ini bersuara, tapi kebanyakan cuma diantara sesama komunitasnya aja.
gak ada yang benar2 berani untuk tampil menyuarakan perbedaan pendapatnya.
Sayang.
Padahal udah susah2 kita dari kecil diajarkan tentang perbedaan pendapat, (selain memang diajarkan pula tentang musyawarah mufakat)
Apakah memang benar2 tidak lagi ada ruang untuk kita yang berbeda walaupun punya tujuan sama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar